26 Juni, 2010

PROFIL SEMIFINALIS EAGLE AWARDS 2010


Berikut adalah Profil 10 Semifinalis EADC 2010 yang akan bertarung pada Pitching Forum EADC 2010 tanggal 25 Juni 2010 untuk menentukan 5 finalis yang berhak mendapatkan Beasiwa Eagle Awards 2010.

1. Judul Proposal “ Bingo” di gagas oleh :

Muhammad Fajri Amirul Nasrulloh(22th) Mahasiswa Politeknik Elektronika Negeri Surabaya .

Motivasi ikut EADC 2010 : “Ingin mendalami dunia Film sehingga dapat membuat film yang lebih baik, serta ingin memperkenalkan segala kelebihan yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia"

Ani Susilowati(22th) Mahasiswi Politeknik Elektronika Negeri Surabaya

Motivasi ikut EADC 2010 : "Ingin mengikuti pelatihan membuat film dokumenter dan ingin menang di ajang penghargaan film dokumenter Eagle Awards 2010"

2. Judul Proposal “Beasiswa Pendidikan ala Bajo” di gagas oleh :

Tomy Almijun Kibu(22th) Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Haluoleo, Kendari, SULTENG

Motivasi ikut EADC 2010 : “Keinginan yang kuat untuk belajar membuat film dok umenter karena menyukai sesuatu yang bersifat realistis, dan EADC adalah ajang yang eksklusif dan penuh tantangan”

Rosniawanti Fikri Tahir(25th) Mahasiswa STAIN Kendari tingkat akhir yang juga berprofesi sebagai penyiar radio lokal

Motivasi ikut EADC 2010 : “Ingin belajar membuat film dokumenter dan seluk beluk dunia sinematografi”

3. Judul Proposal “Dongeng Ajaib” digagas oleh :

Budiyanto(21th) Mahasiswa Universitas Bakrie jurusan akutansi, Jakarta

Motivasi ikut EADC 2010 : “Ingin mendalami dunia broadcasting agar bisa berbagi pengetahuan kepada khalayak luas”

Elsha Parawira Putri(21th) Mahasiswa Universitas Bakrie jurusan akutansi, Jakarta

Motivasi ikut EADC 2010 : “Ingin menyampaikan realita sosial yang dilihat, serta ingin menimba ilmu dan pengalaman tentang dunia film”

4. Judul Proposal "Ganesha dari Rimba Sumatra” di gagas oleh :

Suyadi (30th) asal Lampung & ImadeAnom Bawa(25th) asal Bali, Mahasiswa IPB program Pasca Sarjana Jurusan Informasi &Teknologi for Natural Resources Management.

Motivasi ikut EADC 2010 : "Ingin Mendalami ilmu pembuatan film dokumenter mulai dari pengembangan ide hingga selesai dan ingin mengangkat sebuah kisah inspiratif mengenai komunitas masyarakat miskin”

5.Judul Proposal” Habibie dari Selokan Mataram” di gagas oleh :

Dendi Pratama(25th) alumni mahasiswa UGM Yogyakarta, sedang bekerja sebagai Marketing

Motivasi ikut EADC 2010 : “Ingin membuat film documenter yang dapat bermanfaat bagi masyarakat”

Danang Cahyo Nugroho(24th) alumni mahasiswa UGM Yogyakarta, sedang bekerja sebagai Tehnisi

Motivasi ikut EADC 2010 : “ngin menunjukan kepada Bangsa Indonesia tentang sosok seorang jenius yang dengan keterbatasanya mampu memberikan manfaat pada masyarakat sekitar”

6. Judul Proposal “ Hong” digagas oleh:

Yoyo Sutarya(28th) & Esa Hari Akbar(22th) Alumni dan Mahasiswa STSI Bandung

Motivasi ikut EADC 2010 : “Ingin menambah wawasan dan pengalaman serta mampu berprestasi di tingkat nasional”

7. Judul Proposal “Pasinaon” digagas oleh :

Samrin(23th) Mahasiswa Akutansi Universitas Negeri Semarang

Motivasi ikut EADC 2010 : “Ingin Menyalurkan Ide,gagasan,kreatifitas dan ingin mendalami seluk-beluk dunia film”

Saifurrohman(20th) mahasiswa Universitas Negeri Semarang, Jurusan Pendidikan Kurikulum dan Teknologi

Motivasi ikut EADC 2010 : “Menambah Pengalaman dan Prestasi"

8. Judul Proposal “ Pejuang Ras” di gagas oleh :

Hazwin(22th) & Aswadi .N.jayadi(23th) Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makasar

Motivasi ikut EADC 2010 : “Ingin belajar membuat film dokumenter”

9. Judul Proposal “ Sekolah Master Anak Jalanan”

Denny Surahman(26th) Alumni Akademi Bina Sarana Informatika Jakarta, jurusan Manajemen Informatika berprofesi sebagai guru Taman Qur’an

Motivasi ikut EADC 2010 : “Ingin mengetahui secara detail ilmu pembuatan film documenter dari para ahli”

Wiguna Satria Atmawidara(20th) alumni Akademi Trianandra Depok Jurusan Manajemen,berprofesi sebagai Guru di sekolah Master

Motivasi ikut EADC 2010 : “Ingin Menambah pengalaman serta nilai plus dalam mengembangkan potensi diri”

10. Judul Proposal “ Sumanto Si Pustakawan Ontel” di gagas oleh :

Angga Kusuma Aribowo(22th) & Anggita Emi Susilo(20th) Mahasiswa UPN Veteran Yogyakarta, Jurusan Administrasi Bisnis

Motivasi ikut EADC 2010 : “Ingin mencoba hal baru dan memberikan yang terbaik untuk bangsa Indonesia”
BACA SELANJUTNYA...

18 Mei, 2010

SEMERBAK GOES TO DOCUMENTARY


Seolah tak ingin ketinggalan dengan sineas-sineas muda perfilman di Pulau Jawa, komunitas-komunitas film di Kota Kendari pun mulai melebarkan sayapnya. Generasi muda yang berasal dari golongan pelajar, mahasiswa, maupun yang menyebut dirinya pekerja seni mulai mengembangkan minat di bidang film documenter. Setiap Bulan para pemerhati film documenter di Kota Kendari mengadakan screening film documenter, diskusi film hingga pelatihan film documenter.



Komunitas Rumah_Bamboe sebagai bagian dari sineas muda pemerhati film documenter di Kota Kendari memandang Kota Bau-Bau sebagai kota yang penuh dengan keragaman budaya dan memiliki kekayaan sejarah serta keindahan bahari yang memukau. Peran serta generasi muda di kota ini sebagai generasi penerus sangat diperlukan untuk melestarikan dan mempromosikan berbagai potensi tersebut, seperti halnya Pemerintah Kota Bau-Bau yang saat ini konsen untuk mengenalkan berbagai potensi Kota Bau-Bau. Hal ini sejalan dengan program komunitas Rumah_Bamboe yang bermaksud mengembangkan potensi generasi muda untuk memperkenalkan budaya daerahnya melalui Workshop, Produksi dan Pemutaran film dokumenter dengan mengangkat tema ”Semerbak Goes To Documentary 2010” sesuai dengan slogan Kota Bau-Bau.

BACA SELANJUTNYA...

26 Agustus, 2009

SCREENDOCS 2009 GOTHE HOUSE


In-Docs dan Goethe-Institut Jakarta mempersembahkan
screenDocs! Regular: diskusi dan pemutaran film dokumenter 8 Sept 2009
17.30 WIB GoetheHaus Jl. Sam Ratulangi 9-15, Jakarta Pusat www.goethe.de


FILM
1. Wow! Vanessa - The Big Jump (Georg Bussek | Germany)
2. Joki Kecil (Yuli Andari M, Anton Susilo | Indonesia)
3. Tom W ( Anna Wieckowska | Poland)
4. Di Atas Rel Mati (Nur Fitriah Napiz, Welldy Handoko | Indonesia

DISKUSI

Tema: Anak
Speaker:
1. Joshua (mantan penyanyi cilik)
2. Ery Seda (Sosiolog)
Moderator: Chandra Tanzil (sutradara dan produser film dokumenter)

SINOPSIS

Wow! Vanessa - The Big Jump
Vanessa melompat di atas mobil dan melempar dirinya ke atas kuda. Dia telah berjuang bersama teman-temannya dan orang tuanya bahagia dan bangga akan dirinya. Vanessa adalah gadis berusia 11 tahun dan menjadi stunt girl. Segera dia akan melompat dari ketinggian 6 meter. Dia telah berlatih keras untuk lompatan tersebut di sebuah sekolah Stunt. Meskipun begitu ia membutuhkan keberanian yang besar untuk melakukannnya..

Joki Kecil
Pacuan kuda adalah tradisi rakyat yang populer di Sumbawa. Para pengendara kuda adalah anak-anak yang nasibnya tidak sebagus para pemilik kuda. Joki kecil harus menaiki kuda liar tanpa peralatan keamanan yang memadai dengan imbalan yang tidak seberapa. Orang-orang yang berperan dalam pacuan kuda ini, ikut andil dalam arena kemenangan, kebanggaan, perjudian dan kepedihan.


Tom W
Tom berusia 12 tahun dan hidup di Polandia. Sepulang sekolah ia membantu keluarganya: bekerja, pindah ke rumah baru, membeli hadiah natal. Tidak ada masalah bagi Tom sebenarnya, lagipula siapa yang akan melalukan pekerjaan-pekerjaan itu selain dirinya? Cara anggota keluarga lain mengatur kehidupan sehari-hari mereka adalah sesuatu yang benar-benar masalah yang berbeda.


Di Atas Rel Mati
Wahyudi, Ropik, Ade dan Wanto menuturkan tetang keseharian mereka sebagai ‘anak lori’. Anak-anak ini mencoba bertahan hidup dengan menyediakan jasa transportasi lori dorong, sebuah alat untuk mengangkut penumpang dan barang yang kerap dimanfaatkan oleh warga kampung Dao Atas, Ancol – Jakarta. Latar belakang kemiskinan yang membuat mereka putus sekolah. Kehidupan sebagai anak lori membuat mereka beranggapan bahwa sekolah tidak penting. Hal menimbulkan sikap skeptis dalam memandang masa depan.
BACA SELANJUTNYA...

PROTES PERDA,PSK BUAT FILM DOKUMENTER


BLITAR - Para Pekerja Seks Komersial (PSK) penghuni 3 lokalisasi legal di Kabupaten Blitar, Jawa Timur, akan membuat film dokumenter sebagai bentuk protes atas peraturan daerah yang melarang lokalisasi PSK.

Dalam durasi 45 menit, para wanita tunasusila "warga" lokalisasi Tanggul, Desa Pasirharjo, Kecamatan Talun, lokalisasi Poluhan, Desa Kendalrejo, Kecamatan Srengat, dan Ngreco, Kec Selorejo, berusaha memperlihatkan kondisi sosial mereka dalam adegan gerak dan dialog.



Film tersebut ingin menunjukkan kepada masyarakat dan pemerintah, bahwa PSK bukanlah sekumpulan orang buangan yang tidak bercita-cita. Mereka juga manusia seperti halnya anggota masyarakat pada umumnya, yang ingin hidup sejahtera secara ekonomi dan sosial.

Menurut keterangan Mawan Wahyudin, Direktur NGO The Post Institute, selaku pendamping PSK, film dokumenter ini merupakan wujud protes PSK atas dikeluarkanya Perda No 15, Tahun 2008 tentang pelarangan lokalisasi di Kabupaten Blitar.

"Kita tidak hanya melakukan aksi unjuk rasa dengan mendatangi legislatif dan eksekutif untuk bernegoisasi. Namun aspirasi (protes) ini, kita kemas dalam sebuah film dokumenter," ujar Mawan.

Dalam adegan, sebanyak 74 PSK Talun, 35 PSK Selorejo, dan 106 PSK Poluhan Srengat, mengambil setting lokasi secara berpindah-pindah.

Dalam beberapa babak, akan disajikan kehidupan remang PSK dalam mengais rupiah, hingga "tembakan" dialog yang menunjukkan protes terhadap negara dan sistem yang tidak memihak.

Rentetan adegan visual itu menurut Mawan, untuk mematahkan asumsi yang berlaku di masyarakat selama ini, jika PSK murni (ansich) memburu ekonomi.

"Itu semua tidak benar, karena sebenarnya ada problem lebih besar yang sifatnya mentalitas atau psikis. Dan itu menjadi tugas negara dan kita semua untuk memecahkanya," paparnya.

Film yang secara finansial, ditopang secara swadaya ini, rencananya akan diedarkan di kalangan tertentu, termasuk diberikan para pembuat kebijakan.

"Dengan film yang belum kita kasih judul ini, kita akan berusaha menggugah hati para penguasa, bagaimana memperlakukan kelompok yang marjinal ini," jelasnya.

Sementara Bupati Blitar, Herry Noegroho, sebelumnya mengatakan siap mengubah kebijakan yang dicetuskan dalam Perda pelarangan prostitusi. Orang nomor satu di Kabupaten Blitar ini berencana akan melokalisir para PSK di lokalisasi Ngreco Kec Selorejo, bukan menutup seluruhnya. "Jadi yang ditutup hanya di Talun dan Srengat. Semua PSK ini akan dilokalisir di Selorejo, "pungkasnya. (solichan arif)
BACA SELANJUTNYA...

26 Juli, 2009

DAYAK DUSUN MENANG LOMBA FILM DOKUMENTER


DAYAK DUSUN Pemenang Film Dokumenter Pekan Budaya

"Dayak Dusun" sebuah film dokumenter memenangi Festival Film pada Pekan Budaya, Seni dan Film di Cirebon yang berlangsung 15-20 Juni 2009 dan karenanya berhak atas biaya produksi uang Rp6 juta.

Juri pada festival Film itu, Hadi di Cirebon, Sabtu, mengatakan ada sebanyak 22 judul film dokumenter yang diikutkan dalam festival itu dan enam di antaranya masuk dalam nominasi.

Lima juri memilih tiga film dokumenter sebagai pemenang harapan dan tiga Judul Film pemenang I, II dan III.



Pemenang pertama adalah film dokumenter "Dayak Dusun" produksi Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT) Pontianak, kemudian "Makare" produksi BKSNT Denpasar, "Nyanyian Sederhana" produksi BPSNT Makassar.

Ketiga film itu mepadat uang produksi masing-masing Rp6 juta, Rp5 juta dan Rp4 juta.

Selanjutnya, pemenang harapan masing-masing "Pesta Tabloid Anak" produksi BPSNT Padang, "Upacara Sedekah Laut Jepara," produksi BPSNT Yogyakarta dan "Keraton Kesepuhan Cirebon" produksi BPSNT Bandung.

Masing-masing produksi film pemenang harapan tersebut mendapat uang produksi Rp2 juta.

Sementara itu, Direktur Perfilman Indonesia, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Ukus Kuswara, kepada wartawan mengatakan adanya Pekan Budaya, Seni dan Film tersebut sangat besar artinya. seperti film menimbulkan identitas budaya dan menumbuhkan ekonomi masyarakat.

Ia menilai, selama pelaksanaan Pekan Budaya, Seni dan Film, mendapat sambutan diluar dugaan. "Antusiasme masyarakat diluar dugaan, terutama generasi muda," katanya.

Pekan Budaya, Seni dan Film itu sengaja tidak dibuat seremonial, toh hasilnya cukup menggembirakan. Indikatornya, pengunjung selalu padat baik untuk pameran, diskusi dan "whorksop" serta seminar, katanya.

Karena itu, kegiatan serupa akan digelar di daerah lain dan direncanakan menjadi agenda tahunan.

Dikatakannya, pentingnya Pekan Budaya, Seni dan Film tersebut untuk lebih melibatkan masyarakat dalam lintasan budaya.

"Bayangkan, sejak lahir kita sudah berada di lingkungan budaya yang berbeda. Karena itu, pemahaman tentang budaya yang berbeda tersebut sengat penting dan harus dipelihara," tambahnya.

BACA SELANJUTNYA...

11 Juli, 2009

MANUSIA PURBA


Manusia Makan Ikan Sejak 40 Ribu Tahun Lalu


Liputan6.com,Beijing: Sejak kapan manusia mulai teratur makan ikan? Barangkali hal itu pernah terbesit di benak Anda. Pertanyaan tersebut saat ini sudah terjawab dengan hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences, baru-baru ini. Penelitian itu menunjukkan setidaknya satu dari nenek moyang kita telah makan ikan secara teratur sejak 40 ribu tahun yang lalu.



Kesimpulan itu diperoleh setelah ilmuwan menganalisis komposisi kimia dari protein dan kolagen rangka manusia purba. Fosil tersebut berasal dari Tianyuan Gua, sebuah daerah yang berdekatan dengan Ibu Kota Cina Beijing. "Analisis ini memberikan bukti pertama konsumsi ikan di era awal manusia modern di Cina. Hal ini mempunyai implikasi untuk manusia modern," ujar Michael P. Richards dari Max Planck Institute for Evolutionary Antropologi.

Peneliti lainnya berasumsi konsumsi ikan telah membantu otak manusia tumbuh lebih besar. Meskipun konsumsi daging hewan telah dilakukan 2 juta tahun yang lalu turut menyumbang tumbuhnya otak manusia.

Kesimpulan penelitian itu masih perlu dibuktikan lebih lanjut. Pasalnya, manusia tidak menggunakan alat-alat tambahan sekitar 50 ribu tahun yang lalu.(AND/LiveScience)

BACA SELANJUTNYA...

RUMAH BAMBOE JADI PEMENANG LOMBA DOKUMENTER


Minggu, 2009 Maret 08

Pemenang LIMAS UI 2009

1. Lomba Nasional

A. Lomba Film Dokumenter
Juara 1 (hadiah Rp. 2.000.000,00 + medali dan sertifikat ) :
Rumah Bamboe Production - Kendari, Sulawesi Tenggara
Judul : “Atapku Langitku”
Juara 2 (hadiah Rp. 1.500.000,00 + medali dan sertifikat) :

Denny Riestanto - Surabaya
Judul : “Pengantin Bunga Pelastik”

Juara 3 (hadiah Rp. 1.000.000,00 + medali dan sertifikat) :
Jatmiko Wicaksono - Yogyakarta
Judul : “Sampah Melulu”